Yogyakarta (ANTARA) - Sejumlah siswa Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Insan Cendekia (IC) Pekalongan, Jawa Tengah, mengembangkan inovasi pengelolaan sampah makanan bernama "KomProMi" atau Komposting Projek Mizan yang mengintegrasikan metode sains dengan nilai-nilai spiritual atau eko-teologi.
Inisiatif yang diinisiasi oleh organisasi Atma Bawana ini menggunakan landasan filosofis Al-Qur'an sebagai basis kesadaran ekologis, sekaligus menjadi aksi nyata dalam mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto terkait keterlibatan pelajar dalam mengatasi krisis sampah nasional.
"Nama KomProMi merujuk pada konsep Mizan dalam Al-Qur'an Surah Ar-Rahman ayat 7–9 yang menekankan keseimbangan alam. Kami memandang menjaga lingkungan merupakan tanggung jawab moral dan spiritual manusia sebagai khalifah di bumi," ujar Ketua Projek KomProMi, Ahmad Ali Rayyan Shahab, di Pekalongan, Selasa.
Rayyan menjelaskan bahwa inovasi ini menerapkan metode Bokashi Composting yang mampu mengolah sampah makanan secara anaerobik selama 10 hingga 14 hari. Sistem ini diklaim lebih higienis, tanpa bau, dan tanpa emisi, sehingga sangat aplikatif untuk lingkungan pendidikan.
Hasil dari proses fermentasi tersebut kemudian dimanfaatkan kembali sebagai pupuk kompos untuk program penghijauan sekolah dan pertanian perkotaan (urban farming), menciptakan siklus ekonomi sirkular di lingkungan madrasah.
Kepala MAN IC Pekalongan Khoirul Anam menyatakan bahwa program ini merupakan bentuk pendidikan karakter yang melampaui kurikulum kelas. Ia mengapresiasi kemandirian siswa dalam mengelola projek, termasuk dalam mencari mitra pembiayaan atau sponsor.
"Kami bangga anak-anak mampu menggabungkan nilai teologi dengan aksi nyata di tengah kesibukan akademik mereka. Ini sejalan dengan visi pemerintah untuk membangun generasi muda yang berorientasi pada keberlanjutan," tutur Khoirul.
Ia menambahkan bahwa sosok Rayyan sebagai motor penggerak memiliki rekam jejak kuat di bidang lingkungan, termasuk riset limbah batik dan kepesertaan dalam forum internasional eko-teologi. Rayyan sendiri telah mendapatkan tawaran studi (Letter of Acceptance) dari enam universitas mancanegara pada jurusan Teknik Lingkungan.
Sementara itu, salah satu pendiri Atma Bawana, Aisyah Auliyah Anisa, menjelaskan bahwa gerakan ini bertujuan menciptakan budaya peduli lingkungan melalui pendekatan holistik yang mencakup edukasi dan kampanye kreatif berbasis nilai keislaman.
Projek KomProMi kini ditargetkan menjadi percontohan nasional (pilot project) bagi sekolah berasrama di Indonesia. Rencana pengembangan ke depan akan menyasar 25 MAN Insan Cendekia di seluruh tanah air sebagai bagian dari gerakan nasional pengelolaan sampah berbasis pendidikan.